Senin, 25 Mei 2020

Bulir Kerinduan

Boyolali, 25 Mei 2020, Senin, 02:15 dini hari.
Waktu masih berlalu, hari terus berganti, malam kian hening dalam kesenyapan. Dan rasa itu kini tak lagi sama. Canda itu tak lagi benar melegakan, senyum itu tak lagi benar menenangkan, tawa itu tak lagi benar membahagiakan. Ada celah kesenduan, ada celah kehampaan, ada celah kekosongan, ada celah kesendirian, ada celah ketakutan.

Mimpi seolah tak lagi indah, cita seakan tak lagi mempesona. Seakan ada tabir kebisuan yang membungkam. Seakan ada kehampaan yang menyelimut ditiap sudut pandang mata. Membisu bersama keheningan pagi, menari bersama liukan dedaunan yang terpatri. Rasa ini terlalu berbeda dari sebelumnya.

Dan perlahan, kerinduan itu berbulir bersama embun pagi. Menepi di ujung dedaunan. 

Adakah hari akan kembali menjadi riang? Membakar wujudkan asa dan cita. Berlari demi mimpi dan harapan kenyataan.
Adakah malam akan kembali menenangkan? Membelai bersama lelah yang menjamah. Bercengkerama diantara kidung kasih dan sayang. Berpasrah akan riuh peluh yang telah mewarnai hari pada Dia Yang Esa.

Pada-Mu, Yang Mengatur Segalanya.
Pada-Mu, Yang Maha Segalanya.
Segala Puji hanya untuk-Mu.
Ijinkan, senyum-senyum itu kembali melegakan.
Ijinkan, tawa itu kembali menggembirakan.
Ijinkan, mimpi itu kembali indah.
Ijinkan, cita itu kembali mempesona.
Ijinkan, siang itu kembali riang.
Ijinkan, malam itu kembali menenangkan.
Segala Puji hanya Untuk-Mu Ya Rab..
Ijinkan, cukupkan, ujian-Mu, Azab-Mu, pada bumi ini Ya Rab..
Segala Puji hanya Untuk-Mu, Tuhan semesta alam.



Jumat, 27 Maret 2020

Heningnya Yogyakarta

00:27 WIB, waktu tertera dilayar handphone ini, Jumat dini hari, 27 Maret 2020. Setahun lebih sepertinya tak lagi terangkai kata, tak goresan melalui liukan pena, tak tertera diantara lalu-layang maya. Hening seperti ini mendamaikan, namun teramat pedih atau bahkan tergenang di ujung mata.

Waktu selalu saja tak pernah mau untuk bercumbu. Seolah berlari, dan berlalu. Banyak hal telah terjadi, banyak hal telah berganti. Dan kini, Jogja serasa sepi.

Semoga kesehatan serta umur panjang senantiasa menyertai kita semua. Limpahan rejeki yang barokah semoga senantiasa menyertai kita pula. Dan rindu ini segera terobati seiring membaiknya kondisi dunia ini.

Minggu, 20 Mei 2018

Malam ke-4 Ramadhan 2018

20 Mei 2018 masih begitu dini untuk memulai hari. 02.29 WIB ketika ku mulai menjentikkan jemari serta melangkahkan pikiran ini. Lampu neon masih menemani, membuat temaran serta membuat bayang disetiap yang diterpa.
Banyak hal seolah melayang, banyak hal seakan terngiang bersama pikiran-pikiran. Semoga banyak hal semakin membaik bersama kedamaian di Ramadhan tahun ini. Dan, happy birthday my beloved son. Doa terbaik selalu termohon padaNYA untukmu.

Senin, 19 September 2016

Sebuah Catatan: Maret 2009

19 Maret 2009, 18:35 Wib
Boyolali telah lagi menyambut. Semuanya terasa begitu merindukan. Setiap sudut dunia ingin dalam lama untuk kembali bersama, atau sekedar berlama memandang, terdiam. Dan aku tak sepenuhnya yakin ada kata yang mampu menuliskan perasaanku ini. Aku rindu dengan semua yang telah aku lalui, telah aku lewati, alami, dan telah aku rasakan. Ingin aku ‘tuk lagi bisa merasakan semua itu. Bersama dengan orang-orang yang aku sayangi, cintai. Bersatu dengan alam, berpacu dengan angin diwaktu siang dan malam dan semuanya. Semoga rindu ini akan segera terobati. -BYL-

19 Maret 2009, 23:55 Wib
Malam serasa runtuh dalam keping-keping kepedihan. Hari atau gelap telah berada  di akhir kesudahan. Mentari tak lagi terbit, malam tak lagi berembulan. Di mana hari dan siang berada? Kesempurnaan. Pergi dalam keheningan hati, kepedihan jiwa. Aku tidak tahu. -BYL-

21 Maret 2009, 12:59 Wib
Siang diketengahan telah berlalu satu jam yang lalu. Siang di Jogja, siang di lemahbang tak ada yang jauh beda. Hari terasa sama membakar. Rasa hati sama-sama diam dalam hampa segala. Asa  terasa pergi.
... Hilang rasa, hilang segala. -BYL-

21 Maret 2009, 22:23 Wib
Sisa hujan masih nampak membekas di selimut gelap sunyi ini. Dingin terasa menusuk ari tak berbalut. Menerjang bersama bayu yang coba mengusik rasa hatiku.

Malam sepertinya tahu akan rasaku, akan  rasa dunia. Hening dalam penat, sepi bersama ‘nyenyet’. Kebisuan malam ini benar buatku dalam kebekuan segala. ... -BYL-

22 Maret 2009, 10:27 Wib
Pagi telah menyingsing kepertengahan hari. Terik redup terganti dalam waktu yang tak pasti. Kadang membakar, kadang redup dalam damai sesaat. ...  -BYL-

Sebuah Catatan: Januari 2009

3 Januari 2009, 09:01 wib.
Pagi telah bersinar tipis mentari. Dingin menusuk dalamnya raga. Menggigil dalam ringkuk tubuh berbalut lembar-lembar kain. Kepala dalam isi terasa dalam acak yang memusingkan.
Dua pekan kan berakhir sudah. Hari diantara kebersamaan rumah kan sebentar terganti. Aku harus kembali ke sana lagi. Rindu masih menyeruak dalam juta rasa. -BYL-

3 Januari 2009, 23:48 wib.
Hari telah membawa pada malam yang tenang. Hari telah menyembunyikan cahya mentari dalam peraduan. Dan hari telah kembali membawaku di Yogyakarta. Siang 13.30 langkah telah memijakkan kaki di tempat ini, Yogyakarta.
Semua masih terasa sama, belum ada besar yang mendorong akan satu perubahan yang indah. Akan lembaran kertas atau belah hati.
Satu do’a akan yang masih berusaha, semua akan kembali sehat, kembali dalam indah semua. Amin. -JOG-

7 Januari 2009, 19:23 wib.
Sisa guyuran langit masih nampak dalam pandangan mata dalam rasa indra. Bumi masih basah akan ribuan titik yang melanda, dan suara decap tepi-tepi tetes genthing masih menggema dalam hampa hati. Langit nampak suram jua. Daun pun kuyub bersama semilir sepoi. Dan sesekali cicit kelelawar terasa memekik bersama lirih suaranya.
Tujuh bulan berlalu sudah. Semuanya mengalir, semuanya berjalan meski ada beberapa hal tak terharap ikut dalam warnai langkah ini. Perasaan itu masih ada dan semakin tumuh dalam hati ini.rasa rindu yang menginginkan temu, rasa sepi yang mengharap untuk terus bicara, rasa hampa yang brmimpi untuk bisa saling memberi. Dalam kebersamaan, dalam harapku. -JOG-

8 Januari 2009, 17:45 wib.
Senja kembali dalam guyur rintik. Sesekali gelegar menyuara mengisi angkasa. Dunia nampak dalam remang, antara nampak dan gelap. Paduan suara rintik dan gelegar menjadikan sore makin dalam senyap suasana. Dedaunan mengatup dalam kedinginan.
Aku. Ada apa denganku magrib ini? Aku menatap kosong antara ribuan titik yang menghujam bumi. Memandang hari yang berubah dalam temaram cahaya. Aku rindu dengan dia yang kini jauh berada. Membekap rasaku dalam ketidaktahuan, dari apa yang terjadi akan dunia.
Diantara desah yang mendesah, diantara tengadah yang bermohon, dalam kebersamaan yang nyata. -JOG-

10 Januari 2009, 19:15 wib.
Magrib dengan lambat laun berangsur meninggalkan. Gelap dan suara isya’ ganti menggaung di jagad angkasa raya. Langit masih nampak kelabu, tanah masih nampak sedikit basah. Dedaunan menjadi pekat kelam tanpa cahaya yang menguyur. Dan hari serasa berhenti melihat apa yang terbaca.
Satu kerinduan membayang dalamnya hati, satu harapan menjadi asa akan jiwa. Bertemu dengan “kesempurnaan” dalam genggam tangan, dalam peluk raga, dan kedamaian kebersamaan.
Do’a terukir di dinding angkasa akan tubuh kecil kesempurnaan. -JOG-

12 Januari 2009, 18:56 wib.
Magrib membasuhku diantara rasa diam hati. Dalam berdiri tiga kali kembali tanpa menghias diri. Ada apa denganku? Ada apa dengan dunia? Ada apa dengan semua? Memandangku dalam kosong, duduk ku diam dalam layang angan.
Apa ada kata yang lebih mesra dari ketika kamu bilang, “aku sayang kamu”,? Apa ada rasa yang lebih mendamaikan dari pada ketika kurasakan rindu akanmu?
Satu do’a kembali terhatur diantara tiga raka’at, senyum bahagia semua. -JOG-

14 Januari 2009, 14:01 wib.
Siang telah berlanjut siang hari ini. Dalam perjalanan estafet waktu yang tak pernah sedetik dalam henti, atau sekejab tuk nikmati semua dalam ketidakterjagaan. Langit masih selalu berseliput kelabu meski sesekali cahya terang menembus pucat langit.
Aku merasa hari yang telah berlalu aneh dalam hitungan dua atau tiga. Kenapa, aku tidak tahu. Semua masih mengalir dalam selokan-selokan yang telah ada, tanpa bias aku membuat aliran sendiri dalam jalanku. Rasa tulus tanpa syarat teralir dalam nadi tubuh ini. -JOG-

Sebuah Catatan: Desember 2008

10 Desember 2008. 19:15 wib.
Hari di Jogja mulai berbalut oleh guyuran air langit. Dingin benar telah menjadi selimut kala hari tertutup gelap. Menusuk di antaraku tiap raga yang terasa. Kala matahari telah sembunyi dalam peraduan semua menjadi dingin. -Yogyakarta-

13 Desember 2008. 13:31 wib.
Waktu masih sama seperti yang biasanya, hanya saja mentari bersinar mulai sedikit demi sedikit, menampakkan wujud dunia dalam pernyataan yang nampak. Meski mendung kelabu masih terhampar tipis di luas langit Tuhan.
Ada sedikit kelegaan akan kabar seseorang meskipun ini juga masih terlihat seperti kabut tipis yang menyapu di lembah Sumbing-Sindoro. -Yogyakarta-

14 Desember 2008. 23:29 wib.
Entah apa ini sebuah tangis atau sebuah senyum kebahagiaan, tetapi satu kedamaian muncul semerbak terurai dari langit akan rintik hujan. Malam diketengahan ini hujan kembali membasuh Yogyakarta. Indah, damai, dan mengharukan. Aku merasakan itu.
Satu perasaan akan penantian seorang ‘kesempurnaan’ yang kini masih jauh berada di sana meluap, berkabar  di ruang angkasa hatiku. Do’a dan perasaan tulus tanpa syarat selalu tercurah untuknya, untuk kesehatan, untuk kebahagiaan, untuk kedamaian dan untuk kelegaan.
Satu ujian kembali telah terlewati sudah akannya. Harap ini akan menjadi akhir dari derita dan kembali dalam senyum kelegaan untuk semua.
Pertanyaan dalamnya hati senantiasa bersuara, kapan waktu akan membawa ku dalam pertemuan dan kebersamaan dengan ‘kesempurnaan’? -Yogyakarta-

16 Desember 2008. 06:46 wib.
Keindahan nyata kurasa diantara dunia atau dalamnya hati. Pagi yang bercahaya tipis mencoba membuka malam yang berkabut. Sejuk sepoi memberi aroma indah dalamnya nafas.
Kelembutan, ketenangan juga mengalun diantara nadi-nadi tubuh ini. Kedamaian akan kesempurnaan yang memberikan perasaan.
Kesehatan semoga selalu tercurah untukmu, kebahagian, kedamaian dan kelegaan akan senantiasa menjadi peneman hari-harimu. -Yogyakarta-

19 Desember 2008, 18:48 wib.
Terbit malam sudah. Taburan bintang hanya segelintir semerbak dilangit yang terhampar. Bayu tiada berhembus dalam tiupan. Daun tiada bergoyang dalam tarian. Sembunyi mereka di bawah selimut gelap ini hari. Entah dimana tempatnya yang ada dalam kepastian, semua terpampang antara iya dan tidak, tidak ada apa itu kepastian yang benar dalam pernyataan.
Diri yang coba menarikan pena hitam pun belum ada perubahan kearah yang lebih baik, lebih indah. Masih dalam hayal-hayal yang tiap hari atau tiap malam masih bergentayang dalam kebimbangan.
Do’a senantiasa tercurah untuk apa itu sebuah kesehatan, mereka yang jauh dari pandang mata, jauh dari jamah tangan. -Yogyakarta-

29 Desember 2008, 15:01 wib.
Kembali tanya menyeruak dalamnya hati. Mengepul diantara perasaan hati yang tiada menentu akan dunia sesama manusia.…. -Boyolali-